Info Sejarah Maharaja Majapahit | Indonesia Hebat Sabang Sampai Meraoke!






Di bagian barat
kemaharajaan yang mulai
runtuh ini, Majapahit tak kuasa
lagi membendung kebangkitan
Kesultanan Malaka yang pada
pertengahan abad ke-15 mulai
menguasai
Selat Malaka dan
melebarkan kekuasaannya ke
Sumatera. Sementara itu
beberapa jajahan dan daerah
taklukan Majapahit di daerah
lainnya di Nusantara, satu per
satu mulai melepaskan diri dari
kekuasaan Majapahit.
Sebuah tampilan model kapal
Majapahit di
Museum Negara
Malaysia , Kuala Lumpur ,
Malaysia .







Setelah mengalami kekalahan
dalam perebutan kekuasaan
dengan Bhre Kertabumi,
Singhawikramawardhana
mengasingkan diri ke
pedalaman di
Daha (bekas ibu
kota Kerajaan Kediri ) dan terus
melanjutkan pemerintahannya
di sana hingga digantikan oleh
putranya
Ranawijaya pada
tahun 1474. Pada 1478
Ranawijaya mengalahkan
Kertabhumi dengan
memanfaatkan ketidakpuasan
umat Hindu dan Budha atas
kebijakan Bhre Kertabumi serta
mempersatukan kembali
Majapahit menjadi satu
kerajaan. Ranawijaya
memerintah pada kurun waktu
1474 hingga 1498 dengan
gelar Girindrawardhana hingga
ia digulingkan oleh Patih Udara.




→ Akibat konflik dinasti ini,
Majapahit menjadi lemah dan
mulai bangkitnya kekuatan
kerajaan Demak yang didirikan
oleh
keturunan Bhre Wirabumi
di pantai utara Jawa.
Waktu berakhirnya
Kemaharajaan Majapahit
berkisar pada kurun waktu
tahun 1478 (tahun 1400 saka,
berakhirnya abad dianggap
sebagai waktu lazim pergantian
dinasti dan berakhirnya suatu
pemerintahan





hingga
tahun 1518.
Dalam tradisi Jawa ada sebuah
kronogram atau
candrasengkala yang berbunyi
sirna ilang kretaning bumi.
Sengkala ini konon adalah
tahun berakhirnya Majapahit
dan harus dibaca sebagai 0041,
yaitu tahun 1400
Saka , atau
1478 Masehi . Arti sengkala ini
adalah “sirna hilanglah
kemakmuran bumi”. Namun
yang sebenarnya digambarkan
oleh candrasengkala tersebut
adalah gugurnya
Bhre Kertabumi , raja ke-11
Majapahit, oleh
Girindrawardhana .



Raden Patah yang saat itu adalah
adipati Demak sebetulnya
berupaya membantu ayahnya
dengan mengirim bala bantuan
dipimpin oleh
Sunan Ngudung ,
tapi mengalami kekalahan
bahkan
Sunan Ngudung
meninggal di tangan Raden
Kusen adik Raden Patah yang
memihak Ranawijaya hingga
para dewan wali menyarankan
Raden Fatah untuk meneruskan
pembangunan masjid Demak.
Hal ini diperkuat oleh prasasti
Jiyu dan Petak, Ranawijaya
mengaku bahwa ia telah
mengalahkan Kertabhumi



dan memindahkan ibu kota ke
Daha (Kediri). Peristiwa ini
memicu perang antara
Ranawijaya dengan
Kesultanan
Demak , karena penguasa
Demak adalah keturunan
Kertabhumi. Sebenarnya
perang ini sudah mulai mereda
ketika Patih Udara melakukan
kudeta ke Girindrawardhana
dan mengakui kekuasan Demak
bahkan menikahi anak termuda
Raden Patah, tetapi
peperangan berkecamuk
kembali ketika Prabu Udara
meminta bantuan Portugis.
Sehingga pada tahun 1518,
Demak melakukan serangan ke
Daha yang mengakhiri sejarah
Majapahit dan ke Malaka.




→ Sejumlah besar abdi istana,
seniman, pendeta, dan anggota
keluarga kerajaan mengungsi
ke pulau
Bali . Pengungsian ini
kemungkinan besar untuk
menghindari pembalasan dan
hukuman dari Demak akibat
selama ini mereka mendukung
Ranawijaya melawan
Kertabhumi.
Dengan jatuhnya Daha yang
dihancurkan oleh Demak pada
tahun 1518, kekuatan kerajaan
Islam pada awal abad ke-16
akhirnya mengalahkan sisa
kerajaan Majapahit.




→ Demak
dibawah pemerintahan Raden
(kemudian menjadi Sultan)
Patah (Fatah), diakui sebagai
penerus kerajaan Majapahit.
Menurut Babad Tanah Jawi dan
tradisi Demak, legitimasi Raden
Patah karena ia adalah putra
raja Majapahit Brawijaya V
dengan seorang putri China.
Catatan sejarah dari Tiongkok,
Portugis (
Tome Pires ), dan
Italia ( Pigafetta )
mengindikasikan bahwa telah
terjadi perpindahan kekuasaan
Majapahit dari tangan penguasa
Hindu ke tangan
Adipati Unus ,
penguasa dari Kesultanan
Demak , antara tahun 1518 dan
1521 M.




→ Demak memastikan posisinya
sebagai kekuatan regional dan
menjadi kerajaan Islam
pertama yang berdiri di tanah
Jawa. Saat itu setelah
keruntuhan Majapahit, sisa
kerajaan Hindu yang masih
bertahan di Jawa hanya tinggal
kerajaan
Blambangan di ujung
timur, serta Kerajaan Sunda
yang beribukota di Pajajaran di
bagian barat. Perlahan-lahan
Islam mulai menyebar seiring
mundurnya masyarakat Hindu
ke pegunungan dan ke
Bali .

Beberapa kantung masyarakat
Hindu
Tengger hingga kini
masih bertahan di pegunungan
Tengger, kawasan
Bromo dan
Semeru .
Kebudayaan
Bendera Majapahit
Gapura Bajang Ratu , gerbang
masuk salah satu kompleks
bangunan penting di ibu kota
Majapahit. Bangunan ini masih
tegak berdiri di
Trowulan .

“ 

"Dari semua
bangunan, tidak ada
tiang yang luput dari
ukiran halus dan
warna indah" [Dalam
lingkungan dikelilingi
tembok] "terdapat
pendopo anggun
beratap ijuk, indah
bagai pemandangan
dalam lukisan...
Kelopak bunga
katangga gugur
tertiup angin dan
bertaburan di atas
atap.

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar